Minggu, 11 Januari 2009

I Hate That I Love U So

Dulu aku pernah mengatakan padanya, kalaupun dia laki laki terakhir yang ada di dunia ini, aku tidak akan memilihnya. Awalnya aku sependapat dengan orang lain, dia tidak seperti cowok lainnya, dia begitu angkuh, sikapnya yang cuek dan kata katanya yang menusuk dapat membuat setiap orang sakit hati. Aku dulu begitu membencinya, dia begitu menyebalkan dan pemarah. Seandainya dia anak kecil ingin sekali rasanya aku menamparnya. Dia bisa menghina orang yang menurut dia tidak memiliki kemampuan seperti dirinya dengan seenaknya. Namun entah mengapa, pada akhirnya kita akan menyadari bahwa apa yang dikatakannya itu memang benar walaupun kadang sangat menyakitkan. Aku ingat betul bagaimana cara dia memaki seseorang yang sudah berumur hanya karna orang itu melakukan kesalahan yang wajar dilakukan oleh orang yang sudah mulai tua, dia memaki tanpa mempedulikan perasaan orang itu, pada saat itu ingin rasanya aku berteriak padanya, sadarkah ia bahwa yang ia katakan pada wanita tua itu begitu menyakitkan, bagaimana seandainya ibunya yang mengalami hal itu, di maki maki oleh seseorang yang lebih muda. Aku ingat bagaimana wanita itu berusaha menahan tangisnya. Ya, itulah dia, dia kadang bisa bersikap sangat kejam, ingin rasanya aku menutup mulutnya dengan selotip tiap kali dia marah, karna tanpa sadar dia akan mengeluarkan kata kata yang menakutkan pada siapa pun yang berhadapan dengannya, walaupun dia tidak pernah mengatakan hal kasar padaku, tetap saja, aku membenci sikapnya.


Namun makin lama aku mengenalnya, aku sadar dia berbahaya bagiku, sikap cueknya merupakan magnet yang membuat dia menjadi semakin menarik. Beberapa minggu setelah aku bersamanya, kami menjadi semakin dekat. Dia memberitahuku mengenai kehidupannya, pikirannya, perasaannya, dan pengalamannya. Kami sering pergi keluar untuk sekedar makan dan ngobrol. Aku sendiri tidak mengerti kenapa dia bisa begitu nyaman makan bersamaku, jujur aku termasuk orang yang pendiam dan malu malu, aku lebih suka diam, sedangkan dia, dia begitu senang berbagi cerita apa saja denganku, dan kadang yang aku lakukan hanya memandangnya. Aku begitu menyukainya saat dia bercerita padaku, cara dia menyampaikannya begitu berbeda dengan orang lain. Dia bisa membuat sebuah cerita menjadi lebih hidup dengan gaya dan intonasinya. Tidak hanya aku, semua orang yang mengenalnya, sangat menyukainya ketika berbicara mengenai suatu hal. Dia begitu percaya diri, begitu santai, kata katanya mudah dicerna dan nyaman untuk didengarkan. Satu yang aku benci darinya, saat berbicara, dia tidak pernah bisa melepaskan rokok dari tangannya. Jujur, aku tidak suka dengan pria yang merokok, tapi entah mengapa, dengannya semua terasa berbeda. Dia begitu kecanduan dengan benda satu itu. Aku sempat menanyakan padanya kenapa dia begitu kecanduan terhadap rokok (dia bisa menghisap 3 bungkus rokok dalam sehari), dia bilang itu semua berawal sejak ia masih duduk di bangku SMP, dan sejak itu ia tidak bisa berhenti. Dia sadar betul bahwa rokok berbahaya, namun apa daya, sulit baginya untuk melepaskan kebiasaan itu. Awalnya dia membuang asapnya kesegala arah tiap kali kami makan bersama, namun setelah beberapa kali, dia membuang asapnya menjauhiku. Aku juga pernah mengatakan padanya, bahwa dia membahayakan bukan hanya dirinya dengan merokok, tapi dia lebih membahayakan diriku. Jawabannya, dia memintaku untuk merokok bersamanya, supaya kami bisa sama sama membahayakan. Aku hanya dapat tersenyum pahit mendengar jawabannya. Yang mengejutkan setelah hari itu, dia bahkan hanya merokok satu batang tiap kali bersamaku. Beberapa hari setelah itu dia hanya merokok setiap kali tidak bersamaku. Seiring berjalannya kebersamaan kami, bagitu banyak perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia jadi lebih perhatian terhadap lingkungan sekitar, dulu dia biasa melempar kertas yang didapatnya dari seseorang di jalan ke segala arah. Suatu kali, sikapnya membuatku terkejut, waktu itu sehabis makan, aku berjalan dibelakangnya di sebuah trotoar, waktu itu dia menerima sebuah kertas advertising dari seseorang. Dia sempat mengepal kertas tersebut, saat itu aku pikir dia akan melemparnya, seperti biasa, tapi ternyata aku salah, dia menyimpan kertas itu, dan membuangnya ke tempat sampah, waktu itu aku begitu terkejut dengan perubahannya. Saat itu, aku sadar, dia tidak seburuk yang aku fikirkan, dari seorang mahluk yang menyebalkan, ternyata dia bisa berubah dan memiliki sisi yang lain, kepedulian.

Pernah suatu hari, aku bertengkar dengannya, dia marah padaku, karna aku lebih mementingkan permintaan orang lain dari pada dirinya. Waktu itu, dia harus pergi dan meninggalkanku, sehingga kami tidak bisa makan bersama. Anehnya, sekitar jam 10 pagi dia tiba tiba menelponku, dia memintaku untuk menunggunya kembali, dia bilang dia ingin makan siang bersamaku. Dia berusaha secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya agar bisa kembali sebelum makan siang. Tepat pukul 11, salah seorang temanku mengajakku untuk makan siang dengannya, aku bilang pada temanku bahwa aku tidak bisa makan bersamanya, karna aku telah ada janji dengan orang lain. Pukul 11.30 dia menelponku, dia menanyakan apakah aku masih menunggunya, aku bilang masih, namun aku menanyakan keberadaannya, apakah masih lama, karna perutku sudah mulai berteriak, dia mengatakan sudah dekat, dia agak terlambat karna dalam perjalan pulang dia tersesat. Aku pun menunggunya, tak lama dia datang, aku pun bertanya padanya, kenapa dia begitu lama, tahu seperti ini aku bisa makan dengan temanku. Dan dia tiba tiba marah padaku, dia bilang, dia berusaha secepat mungkin kembali agar bisa makan siang bersamaku, dia bahkan rela menembus hujan dari mobil sampai ke gedung agar aku tidak lebih lama menunggunya, tapi apa yang dia dapatkan, aku yang bahkan tidak peduli. Begitu aku melihat kemejanya, perasaan menyesal merasukiku, rambut dan kemejanya basah. Dia pasti begitu kedinginan, untuk meredakan amarahnya, aku pun mengajaknya segera makan sambil memberikan senyumanku, dan kemarahannya berhenti sampai disitu, dia pun tersenyum menatapku.


Rabu, 07 Januari 2009

Si cantik

Si cantik itu mobil gue...
Warnanya silver...
Buat gue dia itu special...
Gue sayang banget ama dia...
Gimana g? scara gue beli dia
dari hasil jerih payah gue sendiri...
Tiap bulan gue bayar cicilannya yang
nilainya setengah dari gaji gue sebagai auditor....

Dia udah jadi bagian dari hidup gue...
gue ampe sempet bilang ama dia...
kita itu satu...
kalo lo terluka gue juga bakalan terluka...
karna gue ada di dalem lo...
kalo gue terluka berarti lo lebih terluka...
karna lo yang ngelindungin gue...

Gue inget banget pertama kali dia kenapa kenapa...
Hati gue ampe miris....
And parahnya gue g tahu kapan kejadiannya...
Gue inget banget waktu itu gue parkir di
salah satu mall di Jakarta...
Begitu gue balik, dia udah tergores...
Ada orang yang dengan teganya nyeresetin paku ke dia...
dari ujung kanan ampe ujung kiri...

Kebayang g sich, mobil yang lo sayang...
Yang udah lo anggep bagian dari diri lo...
Tergores dan lo g tahu siapa and kenapa orang
itu ampe bisa tega kayak gitu...

Makin lama gue bareng ama dia...
Gua makin yakin kalo dia emang buat gue...
Gue ngerasa nyatu banget ama dia...
G tahu kenapa gue bisa ngerasa kalo dia ngerasain
apa yang gue rasain tiap kali gue sedih, seneng,
kecewa, marah, pokoknya kita tuch nyatu banget dech...

Dan bukan cuma sekali dia nyelametin idup gue...
Pernah ya waktu gue ama temen gue lagi ke ancol...
Waktu itu gue baru bawa mobil...
Gara gara mau ambil duit...
Gue g liat ada mobil yang parkir di sebelah kiri gue...
G tahu kenapa dia kayak ngingetin gue...
and suddenly gue lewat tanpa nyentuh mobil itu sedikit pun...
Padahal jarak gue ama mobil itu tuch tinggal beberapa inci...

Gue g akan pernah lupa hal itu...
Cantik...
I Love U...
Ur Part Of Me Girl...

Everytime i fall in love it seems to never last

Everytime ur love is near...
I feel the fear...

Jujur sampai saat ini semua kenangan tentang dia g pernah bisa hilang dari pikiran gue...
2 tahun waktu yang terlalu singkat buat gue untuk ngelupain dia...
Dari luar gue mungkin terlihat sembuh dan siap memulai sesuatu yang baru...
Tapi di dalem, luka itu masih ada, gue masih bisa inget setiap detail kenangan yang dia kasih ke gue...

2 tahun gue mencoba membuka hati untuk orang lain...
2 tahun lewat begitu aja tanpa ada seorang pun disamping gue...
2 tahun gue nyia-nyiain orang orang yang peduli and sayang ama gue...
Mereka tahu gue masih terluka dan mereka mau nunggu gue...
Sampai akhirnya mereka lelah dan sadar...
Gue terlalu keras kepala buat disadarin...

Seandainya gue bisa memohon...
Gue pingin banget bisa lupa ingatan...
Tapi belakangan gue sadar...
Kenangan tentang dia sampai kapan pun akan tetap ada...

Beberapa orang berlalu selama dia pergi...
Sampai akhirnya Boy muncul di kehidupan gue...
Jujur dia bukan tipe gue...
Dia bukan "Dia" yang g tergantikan...
Tapi perlahan dia masuk ke hati gue...

Awalnya gue takut...
Tapi apa daya...
Gue g bisa bohong...

Dan Sekarang disaat semuanya berjalan...
Gue harus bisa memutuskan...
Dia bukan untuk gue...

Semuanya seakan mulai dari awal lagi...
Sendiri dan kesepian...

Mungkin bener apa yang dibilang salah seorang temen gue...
Gue haus kasih sayang...

Setelah gue pikir pikir...
Selama ini selalu gue yang mencintai scara berlebihan...
Mungkin sekarang saatnya buat gue belajar untuk berhenti mencintai...
Berhenti berharap....
Karna emang ternyata g ada yang peduli....
Dan mungkin g akan ada co yang bisa ngeliat gue apa adanya...
Atau mungkin gue emang g layak untuk disayangi dan dicintai...
Yang tersisa buat gue cuma rasa sakit....
Sakit karna terlalu menyayangi dan mencintai seseorang...
Yang sebenernya g mencintai dan menyayangi gue...

Gue lelah...
Gue capek...

Gue mau sendirian...



Sabtu, 03 Januari 2009

Boy

Boy...
Gue g tahu lo sebenernya sadar atau g ama perasaan gue...
Tapi mulai sekarang lo bisa bernafas lega...
Gue udah mutusin untuk ngubur lo dalem dalem...
Gue sadar kalo selama ini perasaan gue ke lo terlalu berlebihan...
Lo bukan buat gue...
Gue akan blajar untuk nerima kenyataan...
Lo bukan buat gue...
Karna ternyata lo g punya perasaan yang sama ama yang gue rasain...
Dan gue udah memutuskan...
Gue akan memulai sesuatu yang baru dengan orang lain...
Orang yang bener bener sayang and peduli ama gue...
Maaf karna gue pernah sayang ama lo...
Maaf karna gue sering kangen ama lo...
Maaf karna gue maksain kehadiran gue di hari hari lo...
Gue tahu lo g butuh gue...
Gue tahu lo aneh ngeliat sikap gue...
Gue tahu lo jenuh ama kehadiran gue di hari hari lo...
Gue akan berusaha ngelupain lo secepet gue bisa...